forsimap

Kritisi Taj Mahal sebagai Contoh Bangunan Masjid di Indonesia

In Randi Pratama Kusuma on May 19, 2013 at 2:54 pm

*disampaikan oleh Randi Pratama Kusuma

Sabtu, 4 Mei 2013

Materi:


(Sumber : http://www.wikipedia.org)

Kali ini kami akan membicarakan mengenai kritisi Taj Mahal sebagai bangunan masjid di Indonesia. Artikel ini saya dapatkan dari internet , tetapi saya lupa kapan (maklum dah lama banget)

Judul aslinya ialah “Rekonstruksi Pemikiran, Filosofi Dan Perancangan Arsitektur Islam Berbasiskan Al-Qur’an Dan Sunnah”. Penulisnya disebutkan di Footnote ialah Nangkula Utaberta ST. M. Arch, adalah staf pengajar di Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Jakarta. Saat ini sedang menyelesaikan PhD di Jabatan Seni Bina, Fakulti Alam Bina, Universiti Teknologi Malaysia.

Ada yang kenal mungkin sama Bapak tersebut ?

Oke langsung aja masuk ke materinya. Terkadang saya pakai bahasa saya sendiri, kadang-kadang juga kopi-paste dari materi tersebut.

Saya mulai dari sejarahnya dulu. Tentu teman-teman semua dah pada tahu bahwa Taj Mahal ini didirikan sebagai makam oleh Raja Mughal India: Sheh Jehan, sebagai makan istrinya yang sangat ia cintai. Dikatakan bahwa pembangunannya banyak memakan korban jiwa, tapi saya coba tidak ke arah sana dulu.

Berikut ini kritik untuk Taj Mahal:

  1. Kesalahan Persepsi terhadap Taj Mahal
    Masalah dan isu pertama dari interpretasi masyarakat dan beberapa arsitek terhadap Taj Mahal adalah pemahaman bahwa Taj Mahal adalah sebuah Masjid atau tempat suci masyarakat Muslim di India. Nyatanya bangunan itu bukan masjid tapi sering di salah artikan sebagai masjid. Kesalahan persepsi ini menjadikan Taj Mahal banyak dijadikan referensi atau rujukan dalam perancangan masjid atau Islamic Centre di Indonesia.
    Penulis artikel ini membatasi wilayah penelitiannya pada wilayah Aceh dan Sumatera Utara jadi penulis tersebut mengamati bahwa pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak menggunakan bahasa arsitektur India bangian utara (Moghul) yang bagi masyarakat sekitar bahasa tersebut asing, tetapi itu menjadi menarik perhatian bagi mereka, sesuatu yang berbeda. Bahasa asing ini tentu menarik karena tidak pernah terlihat sebelumnya (kecuali oleh orang-orang yang pernah pergi ke India atau Mekkah-yang jumlahnya dalam masyarakat sangat sedikit sekali).
    Namun, lama kelamaan bahasa arsitektur ini dianggap suatu “Bahasa ideal” sehingga saat merancang banguan masjid atau banguan arsitektur lainnya “kurang afdal” klo ga nyontek taj mahal. Kira-kira begitu pikir orang jaman dulu di sana. Hal ini menimbulkan kesalahan pemahaman karena sebenarnya di saat kita merencanakan, merancang, dan mambangun, kita harus paham akar dari suatu yang kita hasilkan tersebut. Pendekatan begini tidak akan memiliki akar yang kuat selain lebih merupakan pembentuk imej saja. Disamping itu ia tidak akan banyak berkembang karena hanya bergerak dari satu bentuk yang satu ke bentuk yang lain tanpa sebuah kerangka berpikir dan pijakan yang jelas.
    Motif di balik pembuatan Taj Mahal adalah pribadi dan tidak ada hubungannya dengan perjuangan Islam apalagi usaha mendefinisikan apa sebenarnya Arsitektur Islam. Karenanya ia tidak dapat menjadi sebuah tipologi bangunan yang mencerminkan apalagi dijadikan referensi dan bentuk ideal dari Arsitektur Islam.
    Dari studi penulis tentang sejarah Islam didapati bahwa seringkali motif pribadi atau kelompok-lah yang mempengaruhi dan menjadi latar belakang dari lahirnya berbagai bangunan khususnya masjid. Karenanya penting bagi kita untuk memilah-milah dan memahami situasi dan kondisi yang menyebabkan lahirnya sebuah bangunan bukan hanya sekedar mengambil bentuk atau ekspresinya saja
  2. Penggunaan Bahan dan Material di Taj Mahal
    Bahan banguan yang digunakan untuk membuat taj mahal ialah batu marmer putih, sebuah bahan bangunan untuk membuat istana dan bangunan bangsawan lainnya. Penulis berpendapat bahwa penggunaan bahan marmer merupakan suatu yang berlebihan padahal hal ini bertentangan dengan prisip dasar isalam yang mengajarkan tentang kesederhanaan.
    Ibnu Said berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata: Seseorang yang membiarkan pakaiannya menjuntai selama sholat dengan tujuan menyombongkan diri, Allah Yang Maha Kuasa tidak lagi berkepentingan untuk mengampuni dan melindunginya dari neraka.” (Sunnah Abu Dawud Vol I, Hal 167)
    Ibn Abi Laila berkata: Ketika Hudzaifah berada di Madinah, ia meminta segelas air. Seorang sahabat memberikan kepadanya air di dalam wadah perak, Ia mencampakkannya dan berkata (walaupun aku menegurnya): “Ketahuilah sesungguhnya Rasulullah SAW melarang untuk mengenakan sutera atau brokat, dan minum dari wadah emas atau perak. Dia mengatakan seseorang yang melakukan itu di dunia tidak akan mendapatkannya di hari kemudian.” (Sunnah Abu Dawud Vol III, Hal 1053)
    Rasulullah melarang umatnya untuk berlebih-lebihan dalam segala hal termasuk di dalamnya bagaimana mendirikan bangunan dan memilih bahan untuk bangunan kita. Islam berbicara tentang bahasa arsitektural yang sederhana, rendah hati dan fungsional. Hadistnya ialah:
    Annas bin Malik berkata: Rasulullah SAW suatu hari melihat sebuah bangunan besar dengan kubah diatasnya kemudian berkata: “Apakah itu?” Para sahabat menjawab: “Itu merupakan bangunan milik fulan, salah seorang dari kaum Anshor.” Rasulullah tidak mengucapkan sepatah kata pun sehingga menimbulkan tanda tanya besar.
    Ketika pemiliknya memberikan salam kepadanya Rasulullah memalingkan wajahnya dan melangkah pergi. Si pemilik ini mengulanginya berulangkali dan reaksi Rasulullah tetap sama, sehingga orang tersebut menyadari bahwa kemarahan Rasulullah karena ia. Sehingga akhirnya ia menanyakan hal tersebut kepada sahabat yang lain dengan berkata: “Saya bersumpah demi Allah bahwa saya tidak memahami sikap Rasulullah SAW. Para sahabat menjawab, Ia bertindak seperti itu setelah melihat bangunan besar dengan kubah milikmu. Sang sahabat itu kemudian pulang ke rumahnya dan menghancurkannya sehingga rata dengan tanah.
    Suatu hari Rasulullah melihat ke arah yang sama dan tidak melihat bangunan kubah itu lagi. Ia bertanya: “Apa yang telah terjadi pada bangunan berkubah tersebut?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Pemiliknya mengeluh bahwa kau (Rasulullah SAW) memalingkan wajahmu ketika berjumpa dengannya dan ketika kami memberitahukan sebabnya dia pun menghancurkannya.” Rasulullah berkata: “Setiap bangunan adalah fitnah bagi pemiliknya kecuali yang tanpanya manusia tidak dapat hidup.” (Sunnah Abu Dawud Vol III hal 1444-1445)
  3. Posisi dan Penempatan Taj Mahal terhadap Lingkungannya


    (Taj Mahal dan lingkungannya)

    Masalah lain dari perancangan Taj Mahal adalah bagaimana posisi dan penempatan dari bangunan ini terhadap kondisi site dan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana gambar di atas, bangunan ini lebih terlihat sebagai sebuah monument yang berdiri angkuh di lingkungannya dari pada sebuah bangunan yang berusaha menyatu dengan lingkungannya. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip, semangat dan nilai-nilai Islam, karena dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan Hadith Islam berulangkali mengajarkan untuk melihat dan menghormati alam. Allah juga mengajarkan bagaimana manusia untuk dapat beradaptasi dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang ada di alam sekitarnya.

Diskusi:

Rakhmat Aditra: Berarti kasus yang nomer 2 ini mirip ama si masjid kubah emas itu ya? buang-buang duit. Gimana dengan Masjidil Haram?

Randi Pratama: Kalau Masjidil Haram memang harus besar karena kebutuhan manusia yang harus ditampung di situ memang besar dan bukan berarti tidak boleh bangun masjid yang besar, melainkan sebaiknya memaksimalkan bangunan masjid yang ada. Kalau sudah tidak cukup lagi, baru bangun yang baru.

Maisyarah Pradhita: Bagaimana dengan pembangunan masjid yang cukup banyak, bahkan jumlahnya melebihi dari yang dibutuhkan di daerah tersebut? Saya pernah survey di daerah pantura, terutama JEPARA, tiap beberapa ratus meter sekali selalu menemukan masjid, tiap waktu shalat, jamaah yang ada juga tidak terlalu ramai.

Rakhmat Aditra: Ya, saya juga tertarik dgn fenomena tersebut. Kalau di Arab sih di sekitar Masjidil Haram tetap ada masjid-masjid kecil. Namun tentu tetap penuh ketika solat berjamaah. Menariknya: kalau adzan, hanya dari masjidil haram, tetapi iqomah dari masing-masing masjid.

Randi Pratama: Untuk ketentuan misalnya 80% penduduk beragama islam (standar dari PU):

  • Untuk setiap 500 kk atau 2500 jiwa perlu disediakan 1 buah langgar.
  • Untuk setiap 600 kk atau 30.000 jiwa selain langgar juga perlu disediakan Masjid.
  • Untuk setiap 24.000 kk atau 120.000 jiwa perlu disediakan masjid setingkat kecamatan dan fasilitas ibadah lain disamping masjid dan langgar tingkat kelurahan.
  • Sedangkan untuk kurang dari 15 kk beragama Katholik / Kristen cukup disediakan ibadah dirumah dan untuk lebih dari 15 kk beragama katolik perlu disediakan Gereja. Begitu juga dengan agama lainya.

* Data Pembicara: Randi Pratama Kusuma | randipratamakusuma@gmail.com | Arsitektur | Universitas Diponegoro | Kaderisasi FKIA dan Kaderisasi DKM FSMM | Freelancer

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: