forsimap

Perencanaan dan Politik: Antara Idealita dan Realita

In Ridwansyah Yusuf Achmad on May 31, 2013 at 6:23 am

*disampaikan oleh Ridwansyah Yusuf Achmad

Ahad, 26 Mei 2013

Materi:

Saya coba mulai diskusinya. Terkait dengan perencanaan dan politik, ini memang tema yang sangat menarik, karena keduanya saling terkait. Perencanaan yang bagus tanpa political will akan hanya menjadi dokumen berdebu. Dan politik tanpa adanya perencanaan partisipatif hanya akan berbuah ‘abuse of power’.

Pengalaman menunjukkan bahwa ternyata pembuat rencana sering kali tidak memiliki akses/pengaruh politik, sehingga ide dan gagasan besar tentang perbaikan tata kota dan wilayah sering kali tidak terwujud. Akibatnya, banyak perencana yang frustasi dan memilih untuk mengerjakan proyek swasta atau lari ke luar negeri. Dilematis memang keadaannya.

Apa yang saya amati di Belanda, antara keduanya sangat erat dan bahu membahu. Para politisi/pengambil kebijakan, didukung oleh pakar/perencana yang memahami secara teknis apa itu perencanaan dan bagaimana, dan bahkan mereka didukung oleh tim-non teknis, seperti: pakar sosial, psikologi, dan hukum, untuk memuluskan proses implementasi perencanaan.

Ini bisa jadi pembelajaran yang menarik untuk Indonesia, bisakah keduanya bersatu atau justru jadi musuh yang saling tak menyapa?

Kita juga coba tengok, studi kasus Jakarta. Jokowi dan Ahok dikenal sebagai eksekutor yang baik. Kelebihan dari mereka adalah mereka ingin rencana yang telah lama ada bisa di wujudkan segera, seperti: MRT ataupun pemenuhan rumah susun. Ini yang disebut dengan political will dari pemimpin politik untuk menjalankan rencana.

Akhirnya, rencana hanyalah rencana tanpa ada kemauan politik. Dan rencana bisa menjadi sebuah pemberi dampak yang besar bila diiringi oleh kemampuan politik untuk menggerakan perencanaan tersebut menjadi nyata.

Mungkin demikian untuk pendahuluannya.

Diskusi:

  1. Randi: Mas, bisa dikasih contoh kasus yang pernah terjadi di Belanda itu proyek apa saja yang ditangani dan fungsi dari masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya secara khusus?
    Kang Yusuf: Di Belanda, proses perencanaan dan politik cukup menarik untuk dieksplorasi.

Perencanaan dan Politik: Membadai Pikiran

In Yedi Supriadi on May 30, 2013 at 5:39 am

*dimoderasi oleh Yedi Supriadi

Ahad, 19 Mei 2013

Tentang Perencanaan Kota yang Ideal

  • Hanifah binti Husnan (ITS): Bila melihat ke luar negeri, misalnya singapura yang penataan kotanya bagus (rapi, bersih, dan teratur) pada dasarnya berasal dari peraturan yg sangat ketat yaitu penerapan sistem denda, jadi semua semuanya di kenakan denda.
  • Muh. Ainun Najib (UGM): Jika pertanyaannya perencanaan kota yang ideal itu seperti apa? Jawabnya, yang bisa diimplementasi dan sesuai dengan kebutuhan serta berorientasi jangka panjang, kontekstual, dan berkelanjutan. Sedangkan, kalau kota yang ideal, jawabannya adalah kota yang humanis, menghargai tradisi dan budayanya, green, futuristik, serta dibangun dengan hubungan yang baik antar pemerintah-masyarakat-swasta.
  • (Anonim): Kota yang ideal menurut saya itu kota yang orang didalamnya tidak perlu jauh-jauh dari blok rumahnya untuk mendapatkan akses ke pasar, rumah sakit, sekolah, apotek, taman hiburan dan lain-lain. Dan sebetulnya untuk membangun kota yang seperti itu, tidak perlu pusing-pusing membangun konsep baru. Itu memakan waktu lama dan anggaran yang banyak. Tinggal jiplak saja (mengambil preseden dan diadaptasikan-red) dari kota yang sudah bagus di dunia.
  • Tetty Harahap (UGM): Ini subjektif boleh ya? Kota yang ideal adalah yang memenuhi kebutuhan masyarakatnya, bukan keinginannya. Kalau kita sebagai arsitek dan planner kebanyakan secara fisik, berarti apapun harus berasaskan manfaat. Kalaupun membuka jalur investor untuk perkembangan fisik, misal tempat wisata, pusat perbelanjaan, atau membuka jalur tol baru, kita sebagai planner tanyakan pada diri sendiri “Apakah masyarakat butuh ini?” –Road to kota madani-
  • Maisyarah Pradhitasari (UGM): Menurut saya, dalam kasus politik dan perencanaan ini, perencanaan yang ideal berarti perencanaan yang tidak hanya dilakukan secara objektif (semua yang baik-baik) namun juga dapat diterima dalam tataran politik. Karena dengan sistem politik Indonesia saat ini, yang melakukan perencanaan adalah para politisi. Perencanaan (dari tataran masyarakat) akan menjadi percuma jika tidak dapat diterima di tataran yang lebih tinggi. Perencana tidak hanya mampu karena pengetahuan teknis/obyektif, tetapi juga harus bisa menjadi komunikator, pendidik, pemberdaya, mediator, negosiator, advokat, dsb.

청계천 (Cheonggyecheon)

In Nurul Najmi on May 24, 2013 at 1:07 pm

*ditulis oleh Nurul Najmi

Dalam suatu acara ifthar jama’i (buka shaum) di Jakarta, aku bertemu dengan banyak teman dari berbagai daerah di Indonesia. Salah seorang dari mereka bertanya, “Naj, kemarin dari Korea ya? Mampir ke sungai yang terkenal di Seoul itu gak? Yang melintasi tengah kota?”

Aku mulai menebak, “Hangang? Atau Cheonggyecheon?”

“Pokoknya yang direstorasi itu, yang sungai bawah tanah terus diangkat lagi sama walikotanya. Dulunya di atas itu tertutup jalan tol. Jalan tolnya dirobohkan untuk mengembalikan sungai. Proses restorasinya keren banget, motong beton-betonnya itu pake alat berat yang mata pisaunya saja dari berlian.”

Tunggu sebentar… Sungai bawah tanah? Yang dimaksud itu Cheonggyecheon???

***

Pertama kali mendengar nama Cheonggyecheon adalah ketika salah seorang teman seperjalanan ke Korea menunjukkan sebuah video klip lagu yang mengambil setting sungai ini sebagai lokasi syuting, jauh sebelum keberangkatan kami ke Korea (bahkan lolos paper untuk berangkat ke Korea saja belum pasti). Ia mewajibkan untuk mengunjungi Cheonggyecheon jika kami ke Seoul. Aku hanya berkata, “Insya Allah. Kita akan berada di sana nanti.” Sejauh itu aku hanya merasa bahwa tempat itu sepertinya sangat indah. Bolehlah untuk dikunjungi :p

Sampailah kami di Cheonggyecheon. Kami menuruni tangga ke arah aliran sungai yang letaknya 4,6 m lebih rendah dari posisi jalan raya. Saat itu hari sudah gelap dan turun hujan. Hujan pertama kami di Korea. Temanku agak kecewa karena cuaca tak mendukung untuk mengambil gambar  yang bagus melalui kamera. Aku yang berharap banyak anak-anak bermain air di sepanjang aliran air sungai pun tak mendapat yang kuharapkan (siapa juga yang mau main air di tengah hujan -___-“). Yahh.. maksudnya sih kalau ada anak-anak main air kan aku bisa ikutan. Kalau sepi sih, masak (baca: malu kan) main sendirian??

Namun, dengan rasa haru aku tetap berkata pada teman-temanku, “Aku pernah berkata kan, kita akan sampai di sini. Dan sekarang kita benar-benar berada di sini.”

Dan untuk mengobati rasa tidak puas, kami memutuskan untuk kembali lagi esok harinya. Alhasil, satu-satunya objek wisata yang kami kunjungi sebanyak dua kali dalam perjalanan perdana ke Korea ini adalah Cheonggyecheon :))

***