forsimap

Green Building

In Rakhmat Fitranto Aditra on May 19, 2013 at 2:15 pm

*disampaikan oleh Rakhmat Fitranto Aditra

Sabtu, 16 Maret 2013

Materi:

Suatu waktu pernah membahas tentang green building bersama Pak Budi Faisal. Bagi yang belum kenal, Pak Budi Faisal adalah dosen lanskap ITB dan seorang arsitek yang mendalami perancangan dengan bambu.

Beliau berpendapat bahwa kerjaan arsitek itu hampir sulit mendapatkan pahala. Mengapa? Karena bila dibandingkan dengan urban planner yang basic-nya sudah belajar tentang kepentingan publik dan landscape architect  yang belajar tentang keseimbangan alam, arsitek biasanya hanya berbicara tentang kebutuhan klien sehingga jadi lebih mengedepankan ego manusia.

Pak Budi Faisal juga berpendapat bahwa green building jadi sangat penting untuk meningkatkan kontribusi seorang arsitek. Padahal menurut saya, terlepas dari halal-haramnya, hal itu (mewujudkan green building) sangat sulit.

Pertama, saya jelaskan dulu apa itu green architecture dan sustainable architecture menurut AIA. Green architecture itu intinya tentang efisiensi pemakaian energi, seperti penggunaan lampu LED dan pendingin pasif. Sedangkan sustainable architecture itu lebih jauh lagi dimana tidak hanya menghemat, tetapi juga ‘bersiklus’, artinya energi dan material masuk sama dengan energi dan material keluar.

Artinya, istilah yang dipake AIA itu, tidak ada sampah dalam aktivitas bangunan, hanya tiap output dari satu proses akan dipakai sebagai input proses lain. Contoh: tinja dari WC dipake buat bahan bakar kompor, atau hasil demolisi bangunan dipake lagi, baik di-recycle atau di-reuse.

Jadi, sustainable architecture itu biasanya bekerja di skala regional dan di semua proyek di siklus dalur hidup bangunan, mulai dari produksi bahan bangunan, produksi bangunan, pemakaian, hingga demolisi. Begitu seingat saya.

Kesimpulannya? Yang menerapkan green harus pemimpinnya. Tidak bermaksud kampanye lho, serius, karena Chicago pernah memberlakukan kewajiban green roof untuk semua bangunannya dan efeknya luar biasa.

Diskusi:

  1. Suhendri: Bukankah amal tergantung niatnya?
    Rakhmat: Iya, tetapi niat paling tinggi adalah apabila dilakukan.
    Suhendri: Jadi, apapun itu, selagi pekerjaan halal dan dilakukan dengan cara yang halal bisa dinilai ibadah kan?
    Rakhmat: Nah itu dia, kalau selamanya hanya menuruti klien pasti ada saatnya jatuh ke hal yang abu-abu dan lama-kelamaan bisa menjadi haram. Maka dari itu, menurut Pak Budi Faisal, green building jadi sangat penting untuk meningkatkan kontribusi seorang arsitek.
    Suhendri: Berpraktik sebagai arsitek kan sama saja seperti bermuamalah pada umumnya. Kalau yang dimaksud abu-abu itu belum pasti halal-haramnya, ya pasti banyak, kan bermuamalah. Karena yang qath’i cuma prinsip2 umumnya aja.
    Rakhmat: Mungkin lebih aman jika kita menyebutnya sebagai kontribusi arsitek lebih sedikit dibanding urban planner dan arsitek lanskap
  2. Suhendri: Tentang definisi green and sustainable architecture, itu bisa sih dihubungkan ke larangan untuk tidak berlebihan, termasuk ke penggunaan energi.
    Rakhmat: Susah, karena ketika mau membuat bangunan dengan alat-alat yang menghemat energi, biasanya modalnya naik. Meski arsiteknya mau, kliennya tidak mau.
    Suhendri: Itu berarti bahwa kita juga jangan berlebihan dengan green architecture. Biasa saja kalau memang itu sebenarnya tidak masalah.
    Rakhmat: Entah mengapa, saya berhipotesis, kalau tujuannya sama maka energinya bakal sama aja. Contoh: jika kita ingin sampai ke tempat X dengan kecepatan Y, energi yang terpakai pasti sama mau seperti apapun caranya. Artinya, selama klien dan arsiteknya terlalu rakus untuk mencapai kemajuan, ya energi yang dipakai pasti seperti itu terus. Jadi, kalo saya berkesimpulan, solusinya itu ya hidup sederhana, baik arsitek maupun klien.
    Suhendri: Ujung-ujungnya tergantung orangnya.
    Rakhmat: Betul. Entah mengapa belajar green itu jadi tidak efektif bila kliennya tidak mengerti.
  3. Suhendri: Saya tidak mengerti hubungannnya terhadap pemimpin bagaimana? Loncat ya kesimpulannya?
    Rakhmat: Karena klien dan arsitek harus sama-sama green, berarti harus ada yang mendisiplinkan hal tersebut. Contoh kasus di Dubai dan Chicago (silakan coba cari di internet), terlihat komitmen arsitek, klien, ahli sipil, ahli mekanikal dan elektrikal, serta arsitek lanskap untuk mencapai penghematan.

* Data Pembicara: Rakhmat Fitranto Aditra | ma2tfa@yahoo.co.id | Arsitektur | Institut Teknologi Bandung | Kepala Sektor Internal gARis ITB (2011) dan Ketua Divisi Kajian IMA Gunadharma (2011) | Kuliah S2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: