forsimap

Simplicity dan Keseimbangan dalam Perencanaan Ruang/Lahan

In Nurul Najmi on May 19, 2013 at 2:23 pm

*disampaikan oleh Nurul Najmi

Sabtu, 20 April 2013

Materi:

Hari Kamis sore di Balairung Fahutan kampus saya selalu mengadakan kajian rutin, kali ini temanya “Sifat Salat Nabi”. Penjelasan kajian langsung menggunakan metode praktik dengan model memeragakan di atas meja sambil Ust. Fathi Jawas memaparkan dengan sangat rinci mulai dari gerakan takbiratul ihram sampai dengan gerakan salam seperti yang dicontohkan Nabi Saw.

Kita persingkat isi kajian dari Ust. Fathi yaa…

  1. Takbiratul ihram, gerakan takbir tangan selaras dengan tinggi bahu atau telinga. Ada orang yang (kebanyakan orang awam) hanya mengangkat tangan hanya sampai dada atau lebih rendah dari itu. Ada orang yang berlebihan sehingga mengangkat tangannya hingga setinggi kepala. Yang dicontohkan Nabi Saw adalah selaras dengan bahu atau dengan telinga. Santai saja, biasa saja. Jangan berlebihan.
  2. Gerakan rukuk posisi badan membentuk sudut siku-siku. Punggung hingga kepala berada pada satu garis lurus sejajar tanah. Posisi tangan berada di lutut layaknya menggenggam telur. Lengan jangan ditegangkan, karena Nabi Saw memerintahkan untuk menjauhkan lengan dari lambung. Jadi, posisi lengan idealnya juga membentuk segitiga ideal dengan punggung dan kaki, lengan agak dijauhkan sedikit. (lalu saya berpikir, memang iya sih, kalau posisi lengan tegang karena kita anggap itu lurus, justru sebenarnya posisi sudut akan melengkung. Jadi memang yang paling ideal adalah diregangkan sedikit, dijauhkan sedikit dari lambung).
  3. …dst

Ada banyak sekali detail gerakan salat yang disampaikan. Sebagian memang telah saya ketahui sejak kecil, ada perubahan yang saya telah ketahui pula sambil belajar semasa sekolah baik bersumber dari TV, buku, maupun kajian langsung. Tapi tetap saja, kok adaaa aja yang berbeda dengan yang saya kerjakan selama ini. Walau itu hanya gerakan kecil.

Saya rasa setiap orang jika mendengarkan materi tentang gerakan salat juga memiliki pikiran yang mungkin sama dengan saya, “Oh begitu. Lalu, waktu kecil belajar dari siapa? Bukankah guru-guru juga punya dalil.” atau ada yang berpendapat ini masalah furu’iyah.

Saya tidak tertarik di perbedaan,, yang membuat saya tertarik adalah kalimat Ustad fathi yg sering sekali berkata, “Biasa aja. jangan lebay. santai aja.”

Saya melihat energi yang lain ketika beliau berkata demikian sambil mencontohkan gerakan yang sesuai dengan Nabi Saw menurut kesepakatan ulama (baik yang diperdebatkan maupun tidak). Saya merasa bahkan fiqih salat-pun berkaitan dengan ilmu terapan kita, arsitektur/penataan. Tentang kesempurnaan, tentang kesederhanaan, tentang fungsionalitas.

Loncat sedikit saya mau sedikit sharing tentang penelitian skripsi saya, yakni tentang perencanan kawasan rekreasi pertanian di sebuah padepokan/pesantren di bogor. Berkali-kali saya harus mengubah gambar. Bukan gambar detail, bahkan gambar block plan saja masih terus diomeli dosen. Berkali-kali dapat nasihat, “Orang menata itu gak usah berpikir rumit, yang logis, yang sederhana. Kalau membuat rumah saja orang pasti akan meletakkan ruang tamu di depan dan dapur di belakang. Kamu mau menempatkan ruang penerimaan (rekreasi) di mana? Pintu masuknya mana? Ruang rekreasinya di mana? Pengunjung perlu membeli tiket gak? Posisinya di mana? VIC (visitor information center)-nya di mana? Bla..bla..bla..”

Saya menggumam sendiri, iya juga ya… Menata bukan cuma soal berpikir saya mau membuat apa, tapi saya mau meletakkan apa di mana yang itu akan sesuai dengan kebutuhan (dan keinginan) pengguna/user.

Lalu kaitannya dengan gerakan salat tadi apa?

  • Pertama, sama seperti salat, dalam merencanakan, merancang, ataupun menata suatu lahan/bangunan/kota kita harus sempurna. Sempurna dalam apa? Sempurna dalam prosesnya. Mempertimbangkan elemen fisik/non fisik, bahkan sampai sosial-budaya masyarakat setempat. Dalam tahap awal surveying kelengkapan data (sesuai dengan kebutuhan) menjadi sangat penting.
  • Kedua, jangan berlebihan, berpikirlah sederhana. Dalam gerakan salat, kadang orang-orang pengajian yang ingin gerakannya tampak bagus, suka meletakkan tangannya terlalu tinggi saat gerakan bersedekap atau sujud terlalu jauh sehingga posisi kaki (antara paha dan betis) tidak siku-siku, melainkan membentuk sudut tumpul. Padahal yang sederhananya (sifat salat Nabi Saw), bersedekap itu ya di atas dada, posisi sujud selain 7 anggota badan yang menempel pada lantai, posisi telapak tangan seperti ketika takbiratul ihram, lengan dibuka, dan kaki membentuk sudut siku-siku, tidak terlalu pendek posisi sujudnya atau terlalu jauh. Proporsional. Biasa aja, tidak berlebihan.
    Dewasa ini sangat populer dengan desain-desain minimalis, model simpel tapi cantik. Dalam perancangan lanskap juga demikian. Biasanya dalam lomba-lomba gitu, juri lebih menyukai desain yang sederhana tapi memiliki konsep yang kuat. Saya pikir memang manusia pun dirancang seperti itu, lebih menyukai pada sesuatu yang mudah dimengerti dan masuk di akal. Think simply.
  • Ketiga, keimbangan dan proporsional. Dalam perencanaan ruang suatu tapak misalnya, ruang penerimaan (welcome area) biasanya lebih besar dari ruang transisi, dan ruang utama/inti aktivitas (main area) pasti lebih besar dari welcome/transition area. Kenapa? Ya karena users akan lebih banyak beraktivitas di ruang utama untuk melakukan berbagai kegiatan. Tetapi terkadang kebutuhan ruang transisi justru lebih besar daripada ruang penerimaan. Misalnya pada kawasan Taman Nasional atau Taman Wisata Alam. Area utama biasanya memiliki kepekaan ekologi yang tinggi/rentan, sehingga tidak boleh terlalu banyak orang yang masuk. Jadi ruang transisi dan ruang pelayanan antara welcome dan main harus diperbesar untuk menampung pengunjung.

Diskusi:

Maisyarah: Yap, keren banget yang dibahas kak nurul barusan. Jadi terbuka pandangan saya mengenai keseimbangan dan kesederhnaan. Sekarang sy jga sedang S2 di perencanaan daerah ugm juga. nah ketemu lagi dengan yg namanya studio ni kak. tema besar studio kami mengenai Urban Renewal (pembaharuan kawasan). Kebetulan sya renewal kawasan perekonomian. Design berkali2 diganti, dengan alasan dosen hal itu sudah biasa dan terlalu ecek2. Padahal saya juga menganut paham sederhana itu. Nah menurut temen2 apakah kesederhanaan sebenarnya bisa kita terapkan bahkan untuk sebuah perencanaan kota yang memaksa kita untuk BERFIKIR FUTURISTIK, maju, dan terdepan. Ide2 harus baru dan menggugaj. Rasanya kesederhanaan bukan lagi merupakan hal menarik untuk dibahas ketika kita berhadapan dengan klien atau pemangku kebijakan. Lalu bagaimana?

Najmi: Menurut saya sebuah desain futuritik juga harus logis bukan? Harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat di masa yang akan datang. Simplicity di sini bukan berarti konsep/ide desainnya “biasa-biasa” aja. Tapi bisa merupakan konsep yang unik, bahkan aneh, tapi juga tidak rumit. Umm, mungkin contohnya desain taman kota yg dibuat oleh Martha Schwartz. MS membuat desain taman, bukan taman sebenarnya, hanya ruang terbuka di tengah kota yang sangat padat mobilitasnya. Doi meriset sekitar 4000 pedestrian untuk mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan users. Hasil desainnya hanya berupa bangku yang bentuknya meng-ular sangat panjang, tapi ternyata mampu menampung semua keinginan pengguna jalan: mereka yang ingin diskusi kelompok bisa duduk di spot lingkar bangku yang melengkung ke dalam, yang ingin privasinya aman bisa memilih spot lingkar individual. Desainnya simpel banget, tapi menjawab kebutuhan users yang sebelumnya mungkin tak terpikir.

Maisyarah: Yap… aaah, hubungannya dengan gerakan shalat juga ternyata ada hikmah yg bisa diambil nggih. Yang di ajarkan oleh Allah, itu sebaik2 pelajaran. Andai kita mau berfikir🙂

* Data Pembicara: Nurul Najmi | na_polaris@yahoo.com | Arsitektur Lanskap | Institut Pertanian Bogor | Sekretaris HRD Forces IPB (2009-2010) | Persiapan S2 serta Menulis dan Menyusun Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: