forsimap

Tentang FORSIMAP

*ditulis oleh Reza Primawan Hudrita

“Setiap satu garis kecil yg ditorehkan oleh seorang arsitek, akan berpengaruh besar terhadap perdaban manusia.” (Seorang Dosen)

LATAR BELAKANG

Seorang dosen pernah berkata kepada para mahasiswanya di suatu kelas, bahwa setiap satu garis kecil yang ditorehkan oleh seorang arsitek, akan berpengaruh besar terhadap peradaban manusia. Setelah mendengar kata-kata itu, saya sedikit merenung.

Bayangkan, di Indonesia ada ratusan kampus yang ada jurusan arsitektur-nya. Di tiap kampus itu sedikitnya ada 300-400 mahasiswa (1 angkatan dipukul rata kurang-lebih 100 orang). Yang muslim mungkin sekitar 70% lah ya. Nah, kalau semuanya sholeh, nanti kampus-kampus tersebut akan melahirkan arsitek-arsitek yang berafiliasi terhadap Islam. Itu artinya peradaban Islam di Indonesia sudah pasti akan terwujud kelak.

Karena tiap bangsa akan dipergilirkan memimpin peradaban. Persia, Romawi, Arab, Cina, hingga Inggris pernah memimpin peradaban ini. Sekarang (walaupun tidak suka) harus diakui kalau Amerika menjadi super-power planet ini. Percayalah kawan, ada satu bangsa yang sedang menunggu takdir kepemimpinannya. Bangsa yang belum pernah mewarisi estafet kepemimpinan, yaitu bangsa Melayu. Tepatnya Indonesia, dimana terdapat penduduk muslim terbesar di dunia.

Yah, walaupun arsitek peradaban itu sebenarnya bukan profesi arsitek alumnus jurusan arsitektur. Kata “arsitek” pada frase “arsitek peradaban” hanya kiasan. Apalagi dalam peradaban, pembangunan fisik itu bukanlah yang utama. Namun, saya berkeyakinan, bahwa peradaban Islam di Indonesia bisa berawal dari arsitektur. Dengan catatan kita tetap belajar dan tetap mengajarkan quran (membina).

Mulai dari situ, saya berkeinginan untuk mengumpulkan semua mahasiswa muslim arsitektur di Indonesia dalam satu wadah. Dan bersama-sama mewujudkan peradaban Islam tersebut. Wasilahnya adalah (kalau di ITB disebutnya) Lembaga Dakwah Program Studi (LDPS) arsitektur. Hanya saja, waktu itu saya diberi kesempatan menjadi Kepala lembaga Muslim SAPPK (Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan). Jadinya, saya sekalian juga mencari yang jurusan perencanaan/planologi.

Dari sisi lain, dalam tataran kampus, penting sekali membuat LDPS menjadi mandiri. Bahkan sama pentingnya dengan LDK. Slogan syiar yang diajarkan kepada saya oleh LDK Gamais ITB adalah “luas dan mengakar”. Dan itu berarti syiar yang paling tepat adalah dalam skala jurusan, karena (sedikitnya) ada 3 hal:

  • Pertama, daya sentuh paling luas dan kuat, karena lingkupnya kecil sehingga bisa menjangkau semua stakeholder dengan frekuensi yang banyak.
  • Kedua, punya ciri khas masing-masing, yang sering digeneralisasi oleh LDK. Padahal jurusan FMIPA dengan FSRD itu sangat berbeza pendekatan dakwahnya.
  • Ketiga, jurusan adalah basis massa. Sudah jelas lah ya, di ITB itu adanya jurusan teknik elektro, dan tidak ada jurusan teknik gamais. Jadi sudah memang seharusnyalah kalau LDPS yang mengurusi dakwah di kampus.

Yah, kesimpulan kasarnya, jadi dakwah kampus itu harusnya ada gerakan desentralisasi dari LDK ke LDPS. LDK tinggal sinergisasi saja. Kalo satu LDK hanya bisa mengadakan 1 event superbesar tiap tahun, tapi totalnya hanya 1 event dalam setahun. Bandingkan, dengan masing-masing LDPS yang mengadakann 1 event (tidak harus superbesar) tiap tahunnya, lalu dikoordinasi oleh LDK sehingga diatur agar tiap pekan ada event tersebut. Harusnya syiar dan daya rekrutnya lebih masif, karena kontinu meski sedikit.

TUJUAN

Tujuan FORSIMAP yang saya rancang antara lain:

  1. Menyambungkan semua mahasiswa muslim jurusan arsitektur, perencanaan, dan yang serumpun se-Indonesia.
    Bahkan tak hanya sampai situ, jaringan harus di-maintenance: jaulah dalam rangka studi banding, pembuatan database yang rapi dan update, dan agar lebih solid harus dibentuk puskomda untuk memimpin Semua kampus yang berada dalam 1 wilayah. Tadinya saya berkeinginan untuk mengunjungi tiap kampus langsung untuk menceritakan hal ini, hanya saja belum bisa.
  2. Penguatan Lembaga Dakwah.
    Target jangka panjangnya, tiap kampus punya LDPS dan harus mandiri, agar benar-benar bisa mengurusi dakwah kampus. Bahkan ekstrimnya, dakwah kampus harus diambil alih oleh LDPS, agar LDK bisa lebih fokus untuk Islamisasi Indonesia. Masalah RUU ormas hingga bom di Boston, akan dikesampingkan (tidak dijadikan prioritas) oleh LDK bila jurusan-jurusannya saja masih belum Islami, karena LDPS-nya masih belum mandiri.
    Langkah-langkah untuk membentuk lembaga di tiap kampus adalah dengan melakukan levelisasi lembaga di tiap kampus: 1. Belum ada LDPS 2. LDPS mula 3. LDPS muda 4. LDPS mandiri. Maka dari itu, konsekuensinya adalah harus membuat rumusan kriteria masing-masing level dan rumusan rencana strategis untuk menaikan level. Kemudian, mempersaudarakan tiap lembaga, untuk saling menjaga dan menyemangati supaya fastabiqulkhairat menaikkan level.
  3. Sharing tentang arsitektur dan perencanaan dalam sudut pandang Islam.
    Mungkin kampus-kampus Islam, semisal Unisba (Universitas Islam Bandung) atau UII (Universitas Islam Indonesia), dalam perkuliahannya sering menyandarkan konsep arsitektur pada nilai Quran. Bisa juga kita kaji sendiri (tentunya dalam bimbingan dari yang ahli) tentang bagaimana kaum ‘Ad yang mengukir gunung menjadi bangunan atau tentang tata kota Islam yang pernah diangkat oleh dosen saya dari surat Al Jumu’ah.
    Sehingga nantinya vocabulary kita tentang arsitektur/perencanaan Islam menjadi lebih kaya, dan kelak menjadi referensi utama dalam merancang dan merencana ketika sudah menjadi profesional.
  4. Propaganda peradaban Islam dalam lingkup arsitektur, perencanaan, atau yang serumpun.
    Kurang lebih bisa disebut dakwah keilmuan. Utamanya melalui pembuatan dan penerbitan buku/buletin/jurnal/lainnya. Harapannya, dari propaganda ini, masyarakat Indonesia bisa memahami dan menerima konsep-konsep peradaban Islam.
    Contoh: Konsep pemisahan laki-laki dan perempuan agar tidak terjadi ikhtilat dan khalwat dalam bangunan publik, tidak akan berhasil bila masyarakat tidak tahu tentang syari’at tersebut. Maka dari itu, propaganda menjadi penting untuk mencerdaskan masyarakat tentang hal ini.

Kesimpulan secara singkat, output dari semua tujuan di atas antara lain: lembaga dakwah, alumni sekaligus profesional yang shalih, ide dan konsep arsitektur/perencanaan Islam, serta tulisan.

* Data Penulis: Reza Primawan Hudrita | kooei_ikh1@yahoo.com | Arsitektur | Institut Teknologi Bandung | Perintis FORSIMAP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: